Pages

Showing posts with label ptk. Show all posts
Showing posts with label ptk. Show all posts

Friday, June 24, 2011

Contoh Proposal PTK



PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
( PTK )
 

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH
BAGI SISWA  KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDRA KULON



 Disusun oleh :
NURSIDIK KURNIAWAN, A.Ma.Pd.SD





                                                            PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS


I. JUDUL
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH
BAGI SISWA  KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDRA KULON


II. BIDANG KAJIAN
Pembelajaran Matematika dan Pemberian Pekerjaan Rumah.

III. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memperlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidik dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.
Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang harus ditata, disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarananya dalam arti modal material yang cukup besar, tetapi sampai saat ini Indonesia masih berkutat pada problemmatika ( permasalahan ) klasik dalam hal ini yaitu kualitas pendidikan. Problematika ini setelah dicoba untuk dicari akar permasalahannya adalah bagaikan sebuah mata rantai yang melingkar dan tidak tahu darimana mesti harus diawali.
Terkait dengan mutu pendidikan khususnya pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar ( SD ) dan Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) sampai saat ini masih jauh dan apa yang kita harapkan. Betapa kita masih ingat dengan hangat akan standarisasi Ujian Akhir Sekolah ( UAS ) dengan nilai masing – masing mata pelajaran 4,51 dikeluhkan oleh semua para pendidik bahkan oleh orang – orang tua siswa sendiri, karena anak atau siswanya tidak dapat lulus. Hal lucu yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Melihat kondisi rendahnya prestasi atau hasil belajar siswa tersebut beberapa upaya dilakukan salah satunya adalah pemberian tugas berupa kepada siswa. Dengan pemberian pekerjaan rumah kepada siswa diharapkan siswa dapat meningkatkan aktifitas belajarnya, sehingga terjadi pengulangan dan penguatan terhadap meteri yang diberikan di sekolah dengan harapan siswa mampu meningkatkan hasil belajar atau prestasi siswa.

IV. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

  1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :
Apakah melalui tehnik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika bagi siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Samudra Kulon ?

  1. Pemecahan Masalah
Siswa yang mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus tentunya akan menghasilkan atau menguasai yang berbeda pula dalam sebuah kelas atau kelompok bahkan perlakuan individual sekaligus dengan diberikanya perlakuan dan perhatian yang lebih baik dalam belajar di sekolah maupun di rumah, tentunya akan lebih baik pula penguasaan kertramilan atau konsep terhadap mata pelajaran – mata pelajaran yang dipelajarinya. Dengan pemberian PR secara rutin dan terorganisir dengan baik paling tidak akan mampu mengkondisikan dalam bentuk motifasi ekstinsik bagi siswa itu sendiri.
Moh. Uzer ( 1996:29) menjelaskan “Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, atau paksaan orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar, misalnya seseorang mau belajar karena ia disuruh orang tua untuk mendapatkan peringkat pertama.”
Demikian halnya dengan guru memberikan PR dengan harapan baik itu dirasa memaksa bagi siswa atau itu karena disuruh sebagai tugas dengan perasaan terpaksa, yang jelas mengkondisikan siswa harus belajar. Dengan pola demikian tentunya anak yang lebih banyak belajar dirumah akan lebih baik misalnya dalam mata pelajaran yang dikerjakan..
a.     Hipotensis
Hipotensisi yang diajukan dalam proposal penelitian ini adalah :
“ Melalui tehnik pemberian tugas pekerjaan rumah dapat meningkatkan hasil belajar matematika bagi siswa kelas VI SDN 1 Samudra Kulon”

V. TUJUAN PENELITIAN

1.  Tujuan Umum
Tujuan peneliti yang diharapkan dari penelitian ini menjadi masukan bagi guru dan siswa untuk meningkatkan belajar di rumah.
2.  Tujuan Khusus
Adapaun tujuan khusus dari penelitian ini :
“Untuk mengetahui apakah melalui pemberian pekerjaan rumah dapat meningkatkan prestasi belajar matematika bagi siswa kelas VI SDN 1 Samudra Kulon.”

VI. MANFAAT HASIL PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
a.       SDN 1 Samudra Kulon
Dengan hasil penelitian ini diharapkan SD Negeri 1 Samudra Kulon dapat lebih meningkatkan pemberdayaan pemberian pekerjaan rumah agar prestasi belajar siswa lebih baik dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain.
b.       Guru
Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya.
c.       Siswa
Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk memanfaatkan pekerjaan rumah dalam rangka meningkatkan prestasi belajarnya.

VII. KAJIAN PUSTAKA

  1. Landasan Teori
1.       Matematika
Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematikos” secara ilmu pasti, atau “Mathesis” yang berarti ajaran, pengetahuan abstrak dan deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman keindraan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah – kaidah  tertentu melalui deduksi (Ensiklopedia Indonesia).
Dalam Garis Besar Program Pembelajaran ( GBPP )terdapat istilah Matematika Sekolah yang dimaksudnya untuk memberi penekanan bahwa materi atau pokok bahasan yang terdapat dalam GBPP merupakan materi atau pokok bahasan yang diajarkan pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah (Direkdikdas : 1994 )
  1. Belajar
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar responya menjadi menurun sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi limgkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapasitas baru ( Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha ( berlatih dsb )supaya mendapat suatu kepandaian ( Purwadarminta : 109 )
Belajar dalam penelitian ini diartikan segala usaha yang diberikan olh guru agar mendapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya dalam hal ini adalah pelajaran Matematika.
  1. Prestasi Belajar.
Prestasi belajar berasal dari kata “ prestasi “ dan “belajar’ prestasi berarti hasil yang telah dicapai (Depdikbud, 1995 : 787 ). Sedangkan pengertian belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau lmu (Depdikbud, 1995 : 14 ). Jadi prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka yang diberikan oleh guru. Prestasi dalam penilitian yang dimaksudkan adalah nilai yang diperoleh oleh siswa pada mata pelajaran matematika dalam bentuk nilai berupa angka yang diberikan oleh guru kelasnya setelah melaksanakan tugas yang diberikan padanya
  1. Teknik   
Dalam  umum bahasa Indonesia teknik diartikakan cara (kepandaian, dsb) membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan kesenian  (purwadarminta,: 1035). Sedangkan teknik yang dimaksud disini adalah cara tertentu yang dilakukan oleh guru yang akan dikenakan kepada siswanya dalam rangka mendapatkan informasi atau laporan yang diinginkan.
                                                                                                                               
  1. Pekerjaan rumah
 Pekerjaan rumah atau yang lazim disebut PR dalam bahasa Inggris “Homework “ yang artinya mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam penilitian ini yang dimaksudkan dengan PR adalah sebuah tugas atau pekerjaan tertentu baik tertulis atau lisan yang harus dikerjakan diluar jam sekolah      (terutama dirumah) berkaitan dengan pelajaran yang telah disampaikan guru untuk meningkatkan penguasaan konsep atau ketrampilan dan sekaligus memberikan pengembangan.

VIII. RENCANA DAN PROSEDUR PENELITIAN

  1. Rencana Penelitian
1.  Subjek penelitian
Subyek dalam peniltian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 1 Samudra Kulon  kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas jumlah siswa 38 orang.
Pertimbangan penulis mengambil subyek penilitiann tersebut dimana siswa kelas VI telah mampu dan memiliki kemandirian dalam mengerjakan tugas seperti PR, karena siswa kelas VI telah mampu  membaca dan menulis serta berhitung yang cukup. Selain itu penulis pengajar di kelas VI.
2.  Tempat Penelitian
Dalam penilitian ini penulis mengambil lokasi di SD Negeri 1 Samudra Kulon, kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan bekerja pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subyek penlitian yang sangat sesuai dengan profesi penulis.
3.  Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan Agustus s.d Oktober. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil penelitian tersebut pada semester I Tahun pelajaran 2007/2008.
4. Lama Tidakan
Waktu untuk melaksanakan tindakan pada bulan Okteber, mulai dari siklus I, Siklus II dan Siklus III.

  1. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
1.       Perencanaan
Meliputi penyampaian materi pelajaran, latian soal, pembahasan latian soal, tugas pekerjaan rumah ( kegiatan penelitian utama ) pembahasan PR, ulangan harian.

2.       Tindakan ( Action )/ Kegiatan, mencakup
a.     Siklus I, meliputi : Pendahuluan, kegiatan pokok dan penutup.
b.     Siklus II ( sama dengan I )
c.     Siklus III ( sama dengan I dan II )
3.       Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus – siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

IX. JADWAL PENELITIAN

No
KEGIATAN
MINGGU KE……..
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Perencanaan












2
Proses pembelajaran












3
Evaluasi












4
Pengumpulan Data












5
Analisis Data












6
Penyusunan Hasil












7
Pelaporan Hasil














X. BIAYA PENELITIAN
Akibat yang timbul dari penelitian ini menjadi tanggung jawab peneliti, adapun biaya tersebut adalah :
1. Fotocopy Naskah                   : Rp
2. Kerta folio 1 pack                  : Rp
3. jilid buku                              : Rp
4. Rental Komputer                   : Rp
5. lain – lain                             : Rp
JUMLAH                                  : Rp

XI. PERSONALIA PENELITI
Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :
1. Nama                                      : NURSIDIK KURNIAWAN
    NIP                                           : 813846371
    Pekerjaan                                : Guru Wiyata Bakti SDN 1 Samudra Kulon
    Tugas dalam penelitian : Pengumpulan dan  Analisis Data
READ MORE - Contoh Proposal PTK

Contoh PTK2



PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
 UPAYA MENINGKATKAN MINAT BELAJAR GEOGRAFI MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
KELAS XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II
MOJOSARI - MOJOKERTO

OLEH :
BURHANUDDIN SPd.
SOEJOTO, SPd.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sampai sekarang pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu diperlukan sebuah strategi belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkontruksikan di benak mereka sendiri. Dalam proses belajar, anak belajar dari pengalaman sendiri, mengkonstruksi pengetahuan kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Melalui proses belajar yang mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti bermain, maka anak menjadi senang, sehingga tumbuhlah minat untuk belajar, khususnya belajar Geografi.

1.2 Rumusan Masalah
Apakah model pembelajaran group Investigation (menemukan secara berkelompok) dapat meningkatkan minat belajar Geografi bagi siswa ?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah agar siswa meningkatkan minatnya dalam belajar Geografi; sehingga siswa memperoleh pengetahuan, ketrampilan dan perubahan sikap yang positif.

1.4 Manfaat Dan Hasil Penelitian
a. Siswa : Siswa termotivasi sehingga senang belajar Geografi dan dapat memperoleh pengalaman belajar.
b. Guru : Dapat menambah wawasan tentang strategi pembelajaran.
c. Sekolah : Untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
d. Pengembangan Kurikulum : Merupakan upaya penyempurnaan Kurikulum

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

2.1 Minat
Minat ialah suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan yang tergantung dari bakat dan lingkungan (Sujanto Agus : 1981). Dalam belajar diperlukan suatu pemusatan perhatian agar apa yang dipelajari dapat dipahami; Sehingga siswa dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat dilakukan. Terjadilah suatu perubahan kelakuan.
Perubahan kelakuan ini meliputi seluruh pribadi siswa; baik kognitip, psikomotor maupun afektif. Untuk meningkatkan minat, maka proses pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami apa yang ada di lingkungan secara berkelompok.

2.2 Belajar
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. (Hamalik Pemar : 2001)
Menurut pengertian ini belajar merupakan suatu proses yakni suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Yang menjadi hasil dari belajar bukan penguasan hasil latihan melainkan perubahan tingkah laku. Karena belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku, maka diperlukan pembelajaran yang bermutu yang langsung menyenangkan dan mencerdaskan siswa.

Suasana kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan mencerdaskansiswa itu salah satunya dapat tercipta melalui model pembelajaran Group Investigation.

2.3 Model Pembelajaran Group Investigation (Sharan, 1992)
Model adalah representasi realitas yang disajikan dengan suatu derajat struktur dan urutan ( Richey, 1986 ). Group investigation adalah penemuan yang dilakukan secara berkelompok: murid/ siswa secara berkelompok mengalami dan melakukan percobaan dengan aktif yang memungkinkannya menemukan prinsip.
Langkah-langkah pembelajaran Group Investigation :
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c. Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi
d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan
e. Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok
f. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
g. Evaluasi
h. Penutup
Model pembelajaran Group Investigation ini membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara materi yang yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Dengan model pembelajaran ini minat belajar siswa meningkat dan hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna bagi siswa.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Setting Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini dilaksanakan di kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI yang berlokasi di Jalan Pahlawan No. 52 Mojosari Mojokerto. Jumlah siswa 17 orang, dengan latar belakang sosial ekonomi yang heterogen.

3.2 Persiapan Penelitian
Untuk memperlancar pelaksanan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, kami telah mempersipkan instrumen dan penilaian.

3.3 Siklus Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini menggunakan dua kali siklus, yaitu
Siklus pertama yang meliputi :
A. Pendahuluan
Mempersiapakan konsep materi yang akan dijadikan bahan pembelajaran yaitu :
KD : Memprediksi dinamika perubahan atmosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi.
Indikator : Menganalisa dinamika unsur-unsur cuaca.

B. Langkah Utama
1). Guru membagi siswa dalam 4 kelompok
2). Guru menjelaskan maksud pembelajaran yaitu mengamati unsur unsur cuaca secara berkelompok.
3). Guru memanggil ketua kelompok dan masing-masing diberi tugas mengamati : intensitas sinar matahari, mengukur suhu udara,
mengamati arah dan kecepatan angin, awan dan kelembaban udara di luar kelas.
4). Masing-masing kelompok mengamati dan mendiskusikan materi sesuai dengan tugasnya secara kelompok.
5). Setelah selesai diskusi, ketua kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok.

C. Langkah Penutup
Guru memberikan penilaian kepada kelompok-kelompok siswa yang melakukan pengamatan dan diskusi itu.
Siklus kedua menunggu refleksi siklus ke-1

3.4 Pembentukan Instrumen
Untuk mendapatkan data yang valid dan akurat dari siswa, guru / kolaborator meneliti menggunakan instrumen berupa :
a. Catatan yang meliputi “ Persiapan, pelaksanaan dan penelitian “
b. Lembar evaluasi
c. Lembar Observasi
d. Angket

3.5 Analisa Dan Refleksi
Data yang dicatat tiap langkah meliputi :
a. Data hasil pemahaman materi belajar
b. Data hasil minat belajar dalam melaksanakan tugas mengamati cuaca dan diskusi
Data di atas dianalisis secara berkala setiap langkah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil yang sebenarnya berdasarkan tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang hendak dicapai.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Model pembelajaran Group Investigation ini masih asing bagi siswa kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI, karena belum pernah . Tahap awal praktek peneliti agak banyak menjelaskan pada siswa tentang cara belajar di lapangan untuk memperoleh pengalaman belajar; seperti bagaiman menggunakan alat-alat, bagaimana mencatat hasil penelitian, membuat kesimpulan, berdiskusi dan menyampaikan hasil pembahasan (mempresentasikan). SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI belum mempunyai laboratorium yang memadai, sehingga siswa kurang diadakn praktikum. Setelah siswa dianggap cukup untuk memahami model pembelajaran Group Investigation, selanjutnya pembelajaran diberikan pada pertemuan berikutnya.

Pertemuan berikutnya (2 jam pelajaran)
1). Disajikan dan dijabarkan KD hingga siswa memahami akan apa yang akan dipelajari
2). Menginterpretasikan materi pelajaran yang akan dijabarkan.
3). Menata indikator sesuai dengan kelompok-kelompoknya.
4). Membentuk kelompok
5). Memonitor seluruh tugas siswa
6). Mendiagnose kesulitan siswa
7). Melakukan penilaian
Angket siswa terhadap pelajaran Geografi
ª Dberikan sebelum memulai pembelajaran.
Hasilnya : Kurang berminat
ª Observasi aktivitas guru dalam perencanaan sangat baik, sedangkan dalam
pelaksanaan diperoleh hasil baik
ª Observasi minat siswa dalam belajar diperoleh hasil cukup baik.

Refleksi I
Dari data observasi minat siswa dalam belajar Geografi diperoleh hasil cukup
baik, hal ini disebabkan karena dalam membuat laporan dan mempresentasikan
hasil penemuannya kurang terbiasa.

Refleksi II
Dari data observasi minat siswa diperoleh hasil baik, hal ini karena siswa sudah
lancar dan mulai senang.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan di kelas XI IPS SMA MUHAMMADIYAH II MOJOSARI dengan menggunkan metode pembelajaran Group Investigation ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Pada siklus pertama belum bisa mencapai hasil seperti yang diharapkan, karena siswa masih belum terbiasa. Setelah ada motivasi maka pada pelaksanaan siklus kedua ada
perubahan yang sangat berarti ke arah yang sangat baik. Siswa sudah menunjukkan peningkatan minat dalam belajar Geografi.

5.2 Saran
Sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang berkaitan dengan usaha peningkatan minat belajar bagi siswa sebaiknya menerapkan model pembelajaran Group Investigation. 
READ MORE - Contoh PTK2

Contoh PTK1



UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA(KEM) SISWA KELAS IXF SMPN 1 BANJARANGKAN KABUPATEN KLUNGKUNG TAHUN PELAJARAN 2008-2009
Oleh:I Nyoman Karyawan (Nip.131944321)
ABSTRAK
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kecepatan efektif membaca (KEM) siswa dengan menerapkan teknik trifokus.Kecepatan efektif membaca dipengaruhi oleh keterampilan isi dalam membaca seperti pe-ngurangan fiksasi,regresi,dan sub vokalisasi.Pandangan periferial yang terlatih dan luas da-pat meningkatkan kecepatan siswa dalam membaca.
Kecepatan efektif membaca (KEM) adalah jumlah kata yang dibaca diba-gi waktu tempuh baca dikalikan pemahaman isi bacaan dikalikan 100%.Satuan dari kecepatan efektif membaca adalah kata per menit(kpm).
Subjek penelitian ini adalah kelas IXF SMPN 1 Banjarangkan ,Kabupaten Klungkung tahun pelajaran 2008-2009 yang berjumlah 44 orang.Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus.Materi siklus pertama dan kedua berupa bacaan yang jumlah katanya berkisar antara 200 sampai dengan 300 kata.
Data hasil penelitian ini berupa keterampilan siswa,kemampuan memaha-mi isi bacaan, dan KEM. Keterampilan dalam membaca cepat yang meliputi pe-ngurangan fiksasi,regresi,sub vokalisasi,dan pengembangan pandangan periferial.Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi,tes tertulis,dan prak-tik membaca cepat.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketrampilan membaca cepat,yaitu pengurangan fiksasi .Pada kondisi awal sebanyak 39 siswa berhenti agak lama sedangkan pada siklus II semua siswa tidak melakukan fiksa-si. Semua Siswa melakukan regresi pada tes awal ,sedangkan pada siklus II siswa yang melakukan regresi sebanyak 19 orang,sedangkan pada siklus II semua sis-wa tidak melakukan regresi. Pada tes awal masih banyak anak yang melakukan sub vokalisasi,yaitu 9 orang membaca dengan bersuara,30 orang masih terlihat mulutnya bergerak,5 orang membaca diam. pada tes awal semua siswa pandang-an periferialnya sangat sem-pit,sedangkan pada siklus I pandangan periferial sis-wa sudah semakin luas,yaitu 41 orang pandangan periferialnya sedang dan 3 o-rang pandangan periferialnya luas.Pada siklus II siswa yang pandangan periferi-alnya sedang 34 orang dan yang luas 10 orang.Terjadi peningkatan perluasan pandangan periferial.Pemahaman isi bacaan meningkat sebesar 24,4% ,sedang-kan KEM terjadi peningkatan 5,62 %,atau 66,14 kpm.
PENDAHULUANTaufik Ismail mengatakan bahwa siswa di Indonesia rabun membaca , buta menulis , anemi referensi , melarat bahan perbandingan yang disebabkan karena malas membaca buku .Tetapi mata mereka terbelalak bila menonton televisi. (Ismail,2000,43)
Hasil studi yang dilakukan oleh Book and Reading Development (1992) yang dilaporkan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa  kebiasaan membaca belum terjadi pada siswa SD dan SLTP. Hasil studi tersebut juga menunjukkan adanya korelasi antara mutu pendidikan secara keseluruhan dengan waktu yang tersedia untuk membaca dan ketersediaan bahan bacaan. Selanjutnya hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa belum dimilikinya kebiasan membaca oleh siswa cenderung memberikan dampak negatife terhadap mutu pendidikan SD dan SLTP secara nasional (Sitepu: 1999).
Pada tahun yang sama, IEA (International Association for Evaluation Education Achievement) mengungkapkan bahwa kebisaaan membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke-26 dari 27 negara yang diteliti. Rendahnya kemampuan membaca tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal sekolah.
Rendahnya minat dan kemampuan membaca antara lain tampak pada rendahnya kecepatan efektif membaca (KEM) mereka. Hal ini merupakan salah satu indikator bahwa  pembelajaran membaca di sekolah belum maksimal, kalau tidak boleh dikatakan gagal. Padahal kita mengetahui bahwa rendahnya kemahiran membaca akan sangat berpengaruh pada kemahiran berbahasa yang lain, yaitu mahir menyimak listening skills), mahir berbicara (speaking skills), dan mahir menulis (writing  skills) (Tarigan: 1994).
Penggunaan pendekatan, metode, dan teknik membaca yang tidak tepat diasumsikan merupakan salah satu faktor penentu kurang maksimalnya pencapaiaan tujuan membaca di sekolah. Selain itu, alokasi waktu yang  disediakan  untuk pembelajaran masih sangat minim. Akibatnya pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh guru untuk pelatihan membaca siswa cenderung diarahkan hanya membaca bacaan-bacaan pendek yang terdapat dalam buku paket. Pemahaman guru terhadap kiat-kiat pengembangan membaca yang baik juga disinyalir sangat kurang.
Demikian juga halnya yang terjadi pada siswa kelas IXF SMPN 1 Banjarangkan, Klungkung,Bali semester I tahun pembelajaran 2008/2009. Dari pengukuran awal diketahui bahwa KEM mereka masih rendah yaitu 106,50 kpm. Angka ini menurut Nurhadi masih jauh dari KEM ideal untuk siswa SLTP, yaitu 250 kpm.
Kondisi tersebut sangat memprihatinkan dan harus segara ditangani dengan sungguh-sungguh, simultan, dan terencana. Rendahnya KEM siswa akan memengaruhi rendahnya kemampuan mereka dalam menemukan isi bacaan yang dibaca. Hal tersebut akan berakibat pada turunnya minat baca mereka. Pada akhirnya gairah belajar dan prestasi akademik mereka menurun.
Ada dua faktor utama penyebab rendahnya KEM siswa. Pertama, faktor siswa yang terdiri atas: (1) faktor internal antara lain rendahnya minat dan motivasi membaca, penguasaan bahasa yang rendah, dan intelegensi siswa, dan (2) factor eksternal antara lain: keadaan sosial ekonomi siswa, lingkungan yang kurang  kondusif untuk peningkatan kemahiran membaca. Kedua, factor guru antara lain: kemampuan guru dalam memotivasi siswa, dan kemampuan guru mengelola kelas untuk pembelajaran membaca masih kurang.
Teknik Tri Fokus Steve Snyder adalah teori mutakhir yang berkembang saat ini, cukup sederhana, mudah, dan praktis untuk melatih KEM siswa. Di samping itu, teknik ini masih jarang digunakan dalam pelatihan pembelajaran membaca padahal teknik ini sangat sederhana dan mudah. Oleh kerena itu, teknik ini dijadikan solusi terbaik untuk meningkatkan KEM siswa kelas IXF SMPN 1 Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.
Teknik Tri Fokus Steve Snyder merupakan teknik membaca yang terbilang baru. Teknik ini memiliki kelebihan sederhana, praktis, dan inivatif. Teknik ini disebut tri fokus karena mengajarkan pada para siswa untuk mengembangkan pelatihan peripheral mereka dengan latihan "tri fokus", Maksudnya titik konsentrasi pandangan mata terpusat tiga focus (tiga bagian) setiap barisnya. Sebagian dipusatkan di sebelah kiri, sebagian tengah.dan sebagian kanan.
Periferal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ke-3 (1999 : 858) berarti proses melihat tidak mengenai pokoknya. Dalam kaitan ini dapat diartikan bahwa pandangan periferal saat membaca maksudnya ketika kita membaca titik fokus pandangan mata kita tidak tertuju pada satu demi satu kata secara terpisah. Namun satu focus mewakili satu bagian baik yang berupa kelompok kata (frase), klausa, atau bagian berdasarkan penjedaan.
Dalam membaca, pelihatan periferal yang lebih luas berarti adalah kemampuan untuk menerima informasi lebih banyak dalam satu waktu. Kita membaca lebih cepat jika kita memahami satu frasa dalam sekali pandang. Oleh karena itu pelihatan periferal harus dilatih dan ditingkatkan agar lebih luas dan tajam (De Porter 2000 : 270-274).
Berdasarkan hal tersebut di atas, masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah "Apakah teknik Tri Fokus Steve Snyder dapat meningkatkan kecepatan efektif membaca (KEM) siswa IXF SMPN 1 Banjarangkan pada semester I tahun pelajaran 2008/2009. Adapun tujuan penelitian makalah ini adalah agar siswa memiliki kecepatan efektif membaca yang memadai dan menumbuhkan kemampuan membaca pemahaman (kritis) untuk menangkap informasi dari bacaan dengan cepat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti bagi siswa yang memiliki kecepatan efektif membaca rendah dapat mengetahui kelemahannya dalam membaca cepat dan dapat mengubahnya menjadi kekuatan dalam meningkatkan KEM. Bagi guru agar mengetahui teknik pembelajaran membaca yang sederhana, mudah dan praktis tapi mampu meningkatkan kinerja dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya.
   
METODE PEMECAHAN MASALAH

Untuk menjawab apakah teknik Tri Fokus Steve Snyder mampu meningkatkan KEM siswa? Berikut ini adalah perlakuan pembelajaran sebelum dan sesudah penggunaan teknik Tri Fokus Steve Snyder.
Pertemuan pertama
Pada perternuan pertama, KEM siswa diukur dengan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran dilakukan dalam beberapa tahap:
1. Pendahuluan, meliputi: menyiapkan bahan bacaan, menyiapkan alat evaluasi,  dan menyampaikan informasi model kepada siswa tentang KEM.
2. Kegiatan inti, meliputi: siswa membaca wacana dan mencatat waktunya, siswa menjawab soal yang berkait dengan wacana (berupa sepuluh soal pilihan ganda dengan empat jawaban) tanpa membaca wacana.
3. Penutup,  yaitu:  siswa  bersama  guru menghitung KEM yang dicapai.
Pertemuan kedua
Pada pertemuan kedua penulis mengadakan inovasi pembelajaran dengan menggunakan teknik Tri Fokus Steve Snyder.  Pembelajaran dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

TAHAP PRA PEMBELAJARAN;

Pada tahap ini penulis mengadakan persiapan antara lain: membuat rencana pembelajaran, menyiapkan alat-alat implementasi tindakan, menyiapkan bacaan serta alat evatuasi.

TAHAP PEMBELAJARAN:
Pendahuluan:
1. Siswa diajak berbincang tentang KEM hingga terjadi persepsi yang   benar.
2. Siswa diberi motivasi agar tumbuh gairah untuk mengubah diri berkaitan dengan KEM mereka.
Motivasi pertama yang diberikan antara lain dengan menyodorkan kepada mereka dan menvakinkan mereka kalimat-kalimat ini: 
1. Aku sadar membaca itu mudah.
2. Aku pembaca cepat.
3. Aku mampu membaca cepat dan  paham.
Siswa diminta membaca kalimat-kalimat tersebut dalam hati dan menghayati, kemudian menjadikan kalimat-kalimat tersebut sebagai keyakinan awal sebelum membaca. Kegiatan ini penulis sebut dengan pembelajaran sugestif.
Kemudian disampaikan beberapa hal berkait dengan persiapan sebelum membaca. Persiapan ini lebih bersifat teknik ekstemal. Namun demikian, kondisi eksternal ini sangat berpengaruh pada saat siswa membaca. Jika kondisi dan sikap fisik tidak nyaman dan lingkungan penuh gangguan niscaya kemampuan siswa dalam membaca tidak maksimal.
Siswa diminta melakukan persiapan sebelum membaca sebagai berikut:
1. Minimalkan gangguan
2. Duduklah dengan sikap tegak
3. Lihat sekilas seluruh wacana
Kegiatan inti
a.  Siswa dikenalkan dan dilatih pengembangan periferal yang merupakan inti dari teknik trifokus. Latihan ini berupa tes sederhana yaitu : 
1. Lihatlah secara langsung sebuah objek!
2. Rentangkan kedua lengan kalian dengan jari telunjuk mengarah ke atas!
3. Gerakan lengan kalian ke dalam secara perlahan-lahan hingga kalian melihat   jari-jari tadi.
4. Perhatikan cakupan pelihatan mata kalian ketika melihat lurus ke depan!
b.  Setelah latihan tersebut, siswa diberi lembaran wacana yang frasenya dilingkari sebagai fokus membaca.Lingkaran biru fokus 1,warna ungu sebagai fokus 2,dan hijau muda fokus 3. Untuk membaca wacana siswa hanya memperhatikan lingkaran dengan tiga fokus , sebagian tengah, dan sebagian yang kanan. Hal ini dilakukan berulang-ulang beberapa menit. hati secara beriramaInilah latihan trifokus.
Ulah sensasional Pengusaha Nyentrik Semarang Syeh Puji
Pengusaha nyentrik asal Bedono, Jambu, Semarang, Pujiono Cahyo
Wicaksono tidak henti memunculkan sensasi. Akhir Ramadan lalu dia membagi
kan zakat sebesar Rp 1,3 miliar.
Keterangan:
Fokus I Fokus II Fokus III

c.  Siswa diarahkan menggunakan konsep tersebut untuk membaca sesungguhnya. Bacaan yang digunakan berjudul "Sentra Kedelai Masih Terpusat di Jawa". Bintang (imajiner) merupakan fokus, sedangkan garis-garis merupakan kata-kata dalam kalimat. Setelah selesai membaca, siswa menghitung waktu yang digunakan kemudian bacaan dikumpulkan. Sebagai akhir pembelajaran siswa   menjawab pertanyaan yang berhubungan dangan bacaan tanpa melihat teks bacaan. Soal yang dikerjakan berjumlah sepuluh nomor dengan empat pilihan ganda. Sebagai akhir kegiatan pembelajaran siswa mengoreksi hasil tes yang telah dikerjakan. Setelah itu, siswa menghitung sendiri KEM mereka dengan menggunakan rumus yang telah disampaikan.
   
HASIL PENELITIAN
  Pertemuan Pertama
Hasil kegiatan pertemuan pertama diketahui bahwa:
1. Siswa  tampak  biasa-biasa  saja  dalam mengikuti pembelajaran membaca.
2. Karena berulang-ulang mengalami kegiatan membaca dengan model pembelajaran yang sama siswa tampak kurang bergairah.
3. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa rata-rata KEM siswa 114,77 kpm.
Pertemuan Kedua
Pada pertemuan kedua terjadi perubahan antara lain:
1. Siswa tampak memiliki motivasi lebih tinggi
2. Siswa lebih bergairah mengikuti pembelajaran
3. Terjadi peningkatan KEM, yaitu 168,58 kpm.


PEMBAHASAN
Terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada kecepatan efektif membaca siswa kelas IXF,yaitu KEM pada tes awal sebesar 106,50 kpm naik menjadi 114 kpm pada siklus dan menjadi 166,54 kpm pada siklus II.Terjadi kenaikan kecepatan efektif membaca dari tes awal ke siklus I sebesar 14,37 kata per menit,sedangkan dari siklus I ke siklus II sebesar 51,77 kata per menit. Jika dikonversi ke skala 10 rata-rata nilai siswa pada tes awal adalah 4,68,siklus I 5,32,dan sklus II 7,20.Sedangkan siswa yang tuntas 6,8 % dari 44 siswa pada tes awal,11,4% pada siklus I,dan 88,65% pada siklus II.Siswa dinyatakan tuntas apabila nilai yang diperoleh telah mencapai KKM(SMPN1 Banjarangkan 2007 :16)
        
SIMPULAN

Hasil pembelajaran dapat disimpulkan:
1. Rata-rata KEM siswa kelas IXF meningkat dari 106,50 kpm menjadi 166,54 kpm.
2. Teknik Tri Fokus Steve Snyder menumbuhkan motivasi dan kreativitas membaca siswa.
3. Teknik Tri Fokus berpengaruh terhadap cara dan gaya guru mengajar.

DAFTAR PUSTAKA   
De Porter, B dan Hemacki, M. 2000. Quantum teaming: Membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Bandung: Kaifa.
Harjasujana A. S.dan Yetimulyati. 1966. Membaca 2. Jakarta: Depdikbud.
Redway, K. M. 2000.Membaca cepat. Jakarta: Pustaka Binama Pressindo.
Sitepu, B. R 2002. Lagi-lagi Membaca. Buietin Pusat Perbukuan.V, 16-21.
Tarigan, H. G. 1994. Membaca sebagai suafu keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tim Pelatih Proyek PGSM Propinsi Bali 1999/2000. Peneiltian tindakan kelas (clasroom action reseach) bahan penelitian dosen LPTK dan guru sekolah menengah. Proyek  PPG Dirjend Dikti Depdikbud.
Yulaelawati, EII.''Mahir mambaca kuasai informasi" Buietin Pusat Perbukuan N. (Januari 2000 ) 21 -24.
READ MORE - Contoh PTK1