Pages

Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts
Showing posts with label artikel pendidikan. Show all posts

Friday, June 24, 2011

Contoh Penelitian Tindakan Sekolah




contoh penelitian tindakan sekolah

Memantau :
Pelaksanaan pembelajaran/ bimbingan dan hasil belajar siswa
Keterlasanaan kurikulum tiap mata pelajaran

Menilai :
Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran / bimbingan

Membina :
Guru dalam menyusun RPP
Guru dalam melaksanakan prosesd pembelajaran di kelas/ laboratorium/ lapangan
Guru dalam membuat, mengelola dan menggunakan media pendidikan dan pembelajaran
Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian
Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas

Melaporkan Tindak Lanjut :
Hasil pengawasan akademik pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya
Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional

Tugas Pengawas Sekolah :

Memantau
Pelaksanaan ujian nasional PSB dan ujian sekolah
Pelaksanaan standar nasional pendidikan

Menilai :
Kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya

Membina :
Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah
Kepala sekolah dalam mengkoordinasikan pelaksanaan program bimbingan konseling

Melaporkan tindak lanjut :
Hasil pengawasan manajerial pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya
Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan manajerial untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan

 

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD DENGAN MEDIA VCD

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 BANJARANGKAN TAHUN 2008/2009
OLEH DRS.I MADE SURIANTA (NIP.132161064)
ABSTRAK
Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan subyek penelitian kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan semester 1 tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 42 orang.
Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan pedoman observasi dan data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisisi dengan menggunakan metode deskriptif analisis.
Pelaksanaan tindakan diawali dengan membagi kelas menjadi delapan kelompok, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran dengan VCD, kerja kelompok mengerjakan LKS, presentasi kelompok, dan latihan soal-soal.
Hasil Penelitian menunjukkan 1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pada pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan keaktifan siswa dan 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,68 dan ketuntasan klasikal 70% pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,01 dengan ketuntasan klasikal sebesar 83% pada siklus II.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar matematika siswa, sehingga model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika.
Kata kunci : Kooperatif,STAD dan VCD

A. Latar Belakang Masalah
Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai sekolah tingkat menengah. Sampai saat ini matematika masih dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya.
Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan.
Sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di dalam mempelajari matematika. Salah satu kesulitan itu adalah memahami konsep pada pokok bahasan Bangun ruang sisi lengkung. Akibatnya terjadi banyak kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal baik soal-soal ulangan harian, ulangan umum, dan soal-soal UAN yang berhubungan dengan bangun ruang sisi lengkung.
Menurut H.W. Fowler dalam Pandoyo (1997:1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak, sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran.
Menurut Sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001:1-2) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas, lalu memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M, yaitu membosankan, membahayakan dan merusak seluruh minat siswa. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal.Selain itu pemilihan media yang tepat juga sangat memberikan peranan dalam pembelajaran.
Selama ini media pembelajaran yang dipakai adalah alat peraga yang terbuat dari tripleks-tripleks. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi, media pembelajaran tersebut kurang menarik perhatian dan minat siswa. Untuk itu diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih menarik perhatian dan minat siswa tanpa mengurangi fungsi media pembelajaran secara umum.
Berdasarkan uraian di atas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan gagasan-gagasan terhadap pemecahan suatu masalah dalam kelompoknya masing-masing.
Pemilihan media pembelajaran dengan menggunakan VCD dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan dalam berbagai keadaan tempat, baik di sekolah maupun di rumah; serta yang paling utama adalah dapat memenuhi nilai atau fungsi media pembelajaran secara umum.
Berdasarkan uraian diatas ,maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD dengan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan "

B. Rumusan Masalah
Dari Latar Belakang Masalah dapat Rumusan Masalah yang diangkat adalah :
1. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan aktifitas belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan.
2. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan Prestasi belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan.

C. Kajian Teori dan Pustaka
1. Teori Belajar Matematika
Menurut J. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut: a) Tahap Enaktif , suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata, b) Tahap Ikonik, suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif, c) Tahap Simbolik , suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak, baik symbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf, kata-kata atau kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika maupun lambang-lambang abstrak lainnya (Hidayat, 2004:9).
Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif, dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup, siswa beralih ke tahap belajar yang kedua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Contoh nyata untuk anak SMP kelas sembilan yang sedang mempelajari tentang Kesebangunan Bangun Datar, pada tahap enaktif anak diberikan contoh tentang benda benda di sekitarnya yang bentuknya sebangun dan ditunujukkan panjang sisi-sisinya. Kemudian mengajak siswa-siswa untuk mengukur panjang sisi-sisi dari bangun-bangun tersebut . Selanjutnya pada tahap ikonik siswa dapat diberikan penjelasan tentang perbandinan dari sisi-sisi yang bersesuaian dari dua bangun sebangun dengan menggunakan gambar dan model dua bangun yang sebangun selanjutnya pada tahap simbolik siswa dibimbing untuk dapat mendefinisikan secara simbolik tentang kesebangunan, baik dengan lambang-lambang verbal maupun dengan lambang-lambang matematika.
2. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:1).
Agar tujuan pengajaran dapat tercapai, guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito, 2000:12).Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi, siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas, 2003:1). Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran.
Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat terjadi proses saling membantu diantara anggota-anggota kelompok untuk memahami konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dengan kelompoknya.
Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang, karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak.
Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Sekolah Menengah Pertama (Depdiknas, 2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu; a) Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan; b) Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi, intuisi dan penemuannya; c) Melakukan kegiatan pemecahan masalah; d) Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain.
Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan, menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas, 2003:5).
Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk: 1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa; 2) memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan; 3)memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan; 4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah; 5) menghargai sumbangan tradisi, budaya dan seni di dalam pengembangan matematika; 6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya. (Depdiknas, 2003:6)
Dari kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan, memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan, baik di sekolah maupun di rumah.
3. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin, 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut; a) Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya. b) Kerja kelompok. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran, c) Tes. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu, d) Peningkatan skor individu. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok, e) Penghargaan kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi, diberikan pengghargaan.
Dengan pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
4. Media Pembelajaran
Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia; realia; gambar bergerak atau tidak; tulisan dan suara yang direkam. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran.
Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Terdapat berbagai jenis media belajar (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/), diantaranya ; a) Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik, b) Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya, c) Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya, d) Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Kreteria pertamanya adalah biaya. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik, kecocokan dengan ukuran kelas, keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh yang ditimbulkan, kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran, sipembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka, estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu.
5. Media Pembelajaran Matematika
Menurut H.W. Fowler (Suyitno, 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno, 2000:37).
Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain; a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi; b) Untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa; c) Untuk membuat konsep matematika yang abstrak, dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa.(Darhim, 1993:10)
Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati, 1994:78-79).
6. Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dalam Pembelajaran Matematika
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, berkembang pula jenis-jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Salah satunya adalah media pembelajaran yang berbentuk VCD (Video Compact Disc). Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dapat digunakan sebagai alternatif pemilihan media pembelajaran matematika yang cukup mudah untuk dilaksanakan. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi dan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan di rumah karena VCD player sekarang ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi dan dapat ditemukan hampir disetiap rumah siswa.

D. Prosedur Penelitian
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini diadakan di kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009 mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2008
2. Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IXB SMP Negeri 1 Banjarangkan, tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 42 orang. Sedangkan obyeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi aspek kognitif dan aktifitas pembelajaran siswa.
3. Variabel-variabel Penelitian
Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD dalam pembelajaran matematika kelas IX, sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika.
4. Prosedur Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. Rancangan masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, evaluasi,dan refleksi (Kemmis dan Taggart,1998).
Adapun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian; a ) dapat memahami materi yang sedang dipelajari, b) dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari, c) senang dan aktif mengikuti pembelajaran, d) memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60
6. Metoda Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut ; a) tes pada setiap akhir tindakan, dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian, karena peneliti ingin mengetahui proses jawaban siswa secara rinci, b) Observasi ; Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama kegiatan penelitian, sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam dua siklus.
7. Tehnik Analisa Data dan Kreteria Keberhasilan
Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata, ketuntasan individual (KI) , dan ketuntasan klasikal (KK), dengan indikator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60 (KKM matematika kelas IX SMP Negeri 1 Banjaragkan) dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif. Kriteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan Mean Ideal (MI) dan Standar Deviasi Ideal (SDI) dengan rumus:
MI = ( skor tertinggi ideal + skor terrendah ideal )
SDI = ( skor tertinggi ideal - skor terrendah ideal )
Dengan pedoman seperti berikut :
≥ MI + 1,5 SDI Sangat aktif
MI + 0,5 SDI ≤ < MI + 1,5 SDI Aktif
MI – 0,5 SDI ≤ < MI + 0,5 SDI Cukup aktif
MI – 1,5 SDI ≤ < MI – 0,5 SDI Kurang aktif
< MI – 1,5 SDI Sangat kurang aktif
Keterangan : = Skor rata-rata keaktivan siswa
( Nurkencana & Sunartana, 1992 )
Kriteria keaktifan siswa yang diharapkan dalam penelitian ini adalah berkisar 16,65 ≤ < 19,95 (kategori aktif)
E. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Secara sistematik hasil penelitian ini disajikan dalam susunan : (1) Penyusunan program tindakan pembelajaran, (2) Pelaksanaan tindakan pembelajaran, (3) Evaluasi program tindakan pembelajaran dan, (4) Pembahasan.
1. Penyusunan Program Tindakan Pembelajara
Solusi untuk mengatasi masalah penggunaan model pembelajaran kooperatif type STAD dengan bantuan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan perlu disusun kedalam suatu program tindakan pembelajaran. Penyusunan program tindakan pembelajaran dalam arti luas, berlangsung sejak mulai meneliti Standar Isi, Silabus, sampai meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Permasalahan kelas yang perlu diatasi untuk usaha peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah konsentrasi, pemahaman konsep, dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran kurang. Setelah mendapatkan masalah tersebut diatas, dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor penyebab lainnya. Karena melalui pemahaman berbagai kemungkinan penyebab masalah, suatu tindakan dapat dikembangkan. Peneliti menganggap bahwa penyebab masalah adalah kualitas pembelajaran seperti : a) pembelajaran cenderung satu arah, kurang demokratis, b) pembelajaran kurang memanfaatkan alat peraga, membosankan, dan c) di dalam pembelajaran tidak ada bimbingan dari guru terhadap individu maupun kelompok siswa.Perencanaan Solusi Masalah.
Tindakan solusi masalah yang digunakan oleh peneliti, yaitu pembenahan gaya mengajar dengan pemecahan yang akan dikembangkan pada siklus pertama sebagai berikut :
a. Model pembelajaranPembelajaran yang biasanya cenderung satu arah dibenahi menjadi pembelajaran yang melaksanakan model pembelajaran Kooferatif type STAD Penerapan kombinasi pembelajaran ini secara
umum pembelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberikan informasi dasar, penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan, serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Setelah pertemuan secara klasikal siswa diberi kesempatan kerja dalam kelompok (penerapan latihan terkontrol), ,kemudian bekerja secara perorangan (penerapan latihan mandiri).
b. Tindakan Pembelajaran
Tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran Kooferatif type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa adalah sebagai berikut : 1) Memberitahu Standar Kopetensi dan Kopetensi Dasar, inti materi ajar, dan kegiatan yang akan dilakukan. 2) Memberikan LKS sesuai materi ajar. 3) Menyampaikan materi ajar secara sistematis, simpel, dan menggunakan VCD sebagai media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa, 4) Mendorong dan membimbing siswa untuk menyampaikan ide, 5) Memberikan tugas baik kelompok maupun individu dengan petunjuk yang jelas dan membimbing proses penyelesaiannya, 6) Merespons setiap pendapat atau perilaku siswa, 7) Membimbing siswa membuat rangkuman materi ajar, 8) Memberikan PR dengan petunjuk langah-langkah pengerjaannya.
2. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran
Pada Siklus I Materi yang diberikan adalah unsur-unsur dan luas bagun ruang sisi lengkung. Model pembelajaran yang digunakan adalah kooferatif type STAD dengan VCD sebgai media. Kelas dibagi menjadi 8 kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari lima siswa. Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa, sehingga tiap kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan diatas, sedang, dan di bawah rata-rata. Peneliti sudah berusaha untuk menghindari kelompok dengan jumlah genap namun keadaan jumlah siswa yang memaksa ada dua kelompok terdiri dari 6 orang siswa. Pembelajaran dilakukan selama 8 jam ( empat kali pertemuan ). Tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Sedangkan observasi keaktifan siswa dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Pada siklus II materi yang diberikan adalah volume bangun ruang sisi lengkung, yang diberikan selama 6 jam (dalam 3 kali pertemuan). Dua kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Pembenahan yang dilakukan pada siklus II melihat dari observasi pada siklus I terdapat antara lain: a) pengulangan–pengulangan tayangan VCD yang dianggap penting, b) pengelompokan siswa diatur ulang disesuai dengan hasil tes siklus I, c) pemberian bimbingan dari guru terhadap kelompok yang kesulitan dalam memecahkan permasalahan, dan d) memotivasi siswa yang tergolong kurang untuk mewakili kelompoknya mempersentasikan kerja kelompoknya.
3. Evaluasi Program Tindakan Kelas
Adapun hasil evaluasi selama Program Tindakan kelas disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
Tabel 6.Hasil belajar dan Keaktifan siswa
Siklus
Banyak Siswa
Hasil Belajar
Keaktifan
Ter
tinggi
Ter
rendah
Rata-rata
Ketunt
Rata-rata
Katagori
I
42
10
3
6,68
70%
17.29
Aktif
II
42
10
4
70,01
83%
17.45
Aktif
Peningkatan
-
1
0,33
13%
0,16


Dari data diatas terlihat rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 6,68 dimana hasil ini tergolong cukup besar untuk ukuran sekolah kami, dengan ketuntasan 70% dan rata-rata keaktifan 17,29 yang tergolong katagori aktif. Bila dicermati lebih dalam lagi dari 42 siswa di kelas IX B pada siklus I sebanyak 30 orang yang mendapat nilai ≥ 6 atau 70% siswa tuntas, dan satu oarang siswa mendapat nilai 10, dengan nilai terendah 3 diperoleh oleh 4 orang siswa.
Pada Siklus II hasil belajar yang diperoleh seperti terlihat dari tabel diatas , rata-rata prestasi belajar siswa adalah 7,01 dengan ketuntasan 83%, rata-rata keaktifan 17,45 katagori aktif. Bila dibandingkan dengan hasil pada siklus I terdapat beberapan kenaikan yang cukup memuaskan seperti, untuk nilai tertinggi 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh 1 orang siswa sedangkan pada siklus II diperoleh oleh 5 orang, begitu pula terjadi peningkatan pada nilai terendah dari 3 menjadi 4, rata-rata hasil belajar terjadi kenaikan sebesar 0,33 ketuntasan naik 13% , dan rata-rata keaktifan naik 0,16
4. Pembahasan
Hasil dialog awal dan diskusi dengan sesama guru matematika SMPN 1 Banjarangkan tentang keadaan siswa baik ditinjau dari hasil belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika yang cenderung menurun, memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan pembelajaran yang memudahkan siswa belajar (efektif). Bantuan dan dorongan dari sesama guru matematika ditunjukkan oleh dengan memberikan masukan yang natinya sangat berguna dalam penelitian ini, bantuan juga diberikan dalam bentuk kesediaan dari guru yang untuk membantu menyediakan sarana yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan baik siklus I maupun pada siklus II. Dari hasil diskusi dan berbagai masukan dari sesama guru matematika dan atas saran dan arahan Kepala Sekolah, peneliti menetapkan menerapkan tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siaswa. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus. Pada akhir tiap siklus dilaksanakan tes prestasi belajar, sedangkan observasi tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran dilakukan selama berlangsungnya pemberian tindakan.
Pada siklus I pengelompokan siswa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil ulangan I, dimana setiap kelompok terdiri dari siswa pintar, biasa, dan yang bodoh. Dari delapan kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa masih tampak lebih mengutamakan penonjolan individu. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih suka mengerjakan kedepan sebelum membantu pemahaman teman sekelompoknya. Untuk mengatasi hal ini peneliti berulang-ulang memberitahukan agar sola-soal yang diberikan dalam LKS didiskusikan lebih dahulu dalam kelompoknya, dan bagi siswa yang kurang paham agar menanyakan kepada teman sekelompoknya.
Pada setiap awal pembelajaran peneliti selalu memberitahukan tujuan pembelajaran, inti materi ajar, dan kegiatan yang dilakukan serta membimbing siswa yang bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan siswa. Dari delapan kelompok yang ada tampak satu kelompok yaitu kelompok VIII yang kurang aktif dan kurang serius dalam proses pembelajaran.
Dari hasil tes pada akhir siklus I dan hasil observasi tentang keaktifan siswa selama siklus I diperoleh rata-rata prestasi belajar siswa adalah 6,68 dengan 30 siswa ( 70%) tuntas, 12 siswa (30%) tidak tuntas, dan satu orang mendapat nilai 10. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya adalah 17,29 dengan katagori aktif. Kesalahan siswa dalam mengerjakan tes sebagian besar karena kurangnya pemahaman konsep dan kesalahan melihat gambar terutama dalam melihat jari-jari dan diameter.
Pada siklus II diadakan beberapa perombakan kelompok, pengelompokan diatur ulang dengan melihat hasil belajar pada siklus I. Diskusi pada siklus II berjalan dengan baik, siswa yang sudah mengerti mau memberi penjelasan kepada anggota kelompok yang belum paham, sedangkan yang belum paham tidak malu-malu untuk bertanya kepada temannya. Bahkan beberapa siswa sudah berani bertanya kepada guru bila ada soal yang belum dapat dikerjakan kelompoknya. Sedangkan untuk mengerjakan ke papan tulis dilakukan dengan menunjuk wakil tiap kelompoknya, penunjukan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar lebih berani mengemukakan pendapat. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa yang nilainya kurang pada siklus I. Hasil tes prestasi belajar pada siklus II menunjukkan rata-rata kelas 7,01. Ada 35 siswa ( 83% ) tuntas, 5 siswa mendapat nilai 10, dan nilai terendah 4. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya 17,45 dengan katagori aktif.
Bila dibandingkan dengan siklus I hasil yang diperoleh pada siklus II hampir semua aspek penilaian mengalami peningkatan. Rata-rata kelas mengalami kenaikan dari 6,68 pada siklus I menjadi 7,01 pada siklus II. Untuk pencapaian nilai 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh seorang siswa meningkat menjadi 5 orang pada siklus II, begitu pula untuk nilai terendah 3 pada siklus I meningkat menjadi 4 pada siklus II. Ketuntasan mengalami peningkatan dari 30 siswa (70% ) pada siklus I menjadi 37 siswa (83%) pada siklus II. Keaktifan siswa meningkat dari rata-rata 17,29 ( katagori Aktif) pada siklus I menjadi 17,45 ( katagori Aktif).
Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD dapat meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan aktifitas belajar matematika siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009.
F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu :
1. Rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Pada siklus I rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran sebesar 17,29 meningkat menjadi 17,45 pada siklus II.
2. Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai pada siklus II. Peningkatan ini ditunjukkan dengan dengan kenaikan rata-rata nilai hasil belajar sebesar 6,68 pada suklus I menjadi 7,01 pada siklus II. Begitu pula dengan perolehan nilai 10 terjadi peningkatan dari hanya diperoleh oleh seorang siswa pada siklus I menjadi diperoleh sebanyak 5 orang siswa pada siklus II. Untuk nilai terendah pada siklus I sebesar 3 meningkat menjadi 4 pada siklus II.Sedangkan untuk ketuntasan klasikal juga terjadi peningkatan dari 70% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II.
Bersarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Type STAD dengan media VCD pembelajaran dapat meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun 2008/2009
G. Saran.
Mengingat hasil yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini sangat bagus, maka dapat dikemukakan beberapa saran-saran sebagai berikut :
1. Disarankan kepada sesama guru matematika untuk mencoba model pembelajaran di atas dengan lebih baik, sehingga hasil yang diharapkan juga lebih baik.
2. Untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran melalui tindakan kelas, disarankan agar pemberian dana block grant penelitian tindakan kelas dapat dilanjutkan dan ditingkatkan baik jumlah peserta maupun jumlah dana.
H. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional . 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas.
Depdikbud. 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar. Jakarta : Depdikbud.
Dimyati, Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdikbud.
Hidayat. 2004. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. Semarang:FMIPA UNNES.
Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta:PT Gramedia Widiasarana.

Nurkancana, Wayan & Sunartana. 1992. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya : Usaha Nasional.
Pandoyo. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Semarang:IKIP Semarang Press.
Suhito. 1990. Strategi Pembelajaran Matematika. Semarang:FPMIPA IKIP Semarang.
Suyitno Amin, Pandoyo, Hidayah Isti, Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. Semarang:Pendidikan Matematika FMIPA UNNES
Sudirman. 2007. Cerdas Aktif Matematika. Pembelajaran Matematika Untuk SMP. Bandung:Ganeca Exact.

Sudrajat, akhmad. 2008. Jenis-Jenis Media Pembelajaran. http ://akhmadsudrajat. wordpress.com/
Yitnosumarto, Santoyo. 1990. Dasar-Dasar Statistika. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
READ MORE - Contoh Penelitian Tindakan Sekolah

Sistematika Karya Tulis




sistematika penulisan penelitian

Jenis-jenis penelitian:

1. PENELITIAN DESKRIPTIF
2. PENELITIAN EKSPERIMEN
3. PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
4. PENELITIAN EVALUATIF

Alur penalaran penelitian :
PERMASALAHAN
TEORI PENDUKUNG
RUMUSAN MASALAH
PENGUMPULAN DATA
ANALISIS DATA
KESIMPULAN

Sistematika Penulisan:

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Hasil Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
(sebagai pendukung dalam
pemecahan masalah)
A. Kajian teori
B. Kajian hasil penelitian
terdahulu
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Variabel /Objek yang diteliti
B. Kisi-kisi persiapan penyusunan
instrumen
C. Metode dan instrumen penelitian
D. Metode analisis data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran lokasi penelitian
B. Sajian data
C. Pengolahan dan analisis data
D. Sajian hasil analisis
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan penelitian
B. Saran
C. Diskusi
D. Keterbatasan penelitian
C dan D hanya kalau diperlukan
READ MORE - Sistematika Karya Tulis

Atikel Ilmiah



artikel ilmiah

ARTIKEL MERUPAKAN KARYA ILMIAH HASIL PENELITIAN, PENGKAJIAN, GAGASAN KONSEPTUAL DALAM BIDANG PENDIDIKAN.
ARTIKEL HASIL PENELITIAN: BERISI HAL YG SANGAT PENTING YAITU LATAR BELAKANG DAN TEORI TUJUAN PENELITIAN, METODE PENELITIAN, HASIL DAN PEMBAHASAN, SERTA KESIMPULANNYA

ARTIKEL NON PENELITIAN: SEMUA JENIS ARTIKEL YG BUKAN HASIL PENELITIAN. ARTIKEL INI MENELAAH TEORI, KONSEP, ATAU PRINSIP; MENGEMBANGKAN SUATU MODEL, MENGANALISIS SUATU FAKTA ATAU FENOMENA TERTENTU, ATAU MENILAI SUATU PRODUK.

Sistematika Artikel Penelitian:

JUDUL (huruf kecil tebal), NAMA PENULIS (tanpa gelar)
ABSTRAK DISERTAI KATA KUNCI
PENDAHULUAN (LATAR BELAKANG, KAJIAN PUSTAKA, RUMUSAN MASALAH, TUJUAN PENEL)
METODE PENELITIAN YG DIGUNAKAN (SINGKAT)
HASIL DAN PEMBAHASAN
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR RUJUKAN/PUSTAKA

Sistematika Artikel Non Penelitian:

JUDUL SINGKAT DAN JELAS
ABSTRAK DISERTAI KATA KUNCI
PENDAHULUAN (LATAR BELK MASALAH, PERUMUSAN MASALAH DISERTAI FAKTA)
KAJIAN TEORI/PUSTAKA YANG RELEVAN
ANALISIS/PEMBAHASAN (GAGASAN/IDE PENULIS)
KESIMPULAN (MENJAWAB MASALAH)
DAFTAR RUJUKAN/PUSTAKA

Bagian pokok artikel hasil Penelitian:

BAGIAN AWAL BERISI:
-HALAMAN JUDUL disertai NAMA DAN INSTITUSI/ SEKOLAH PENULIS BERTUGAS
- HALAMAN PENGESAHAN
- HALAMAN KATA PENGANTAR
- HALAMAN DAFTAR ISI
BAGIAN ISI/INTI BERISI:
- BAB PENDAHULUAN
- BAB METODE PENELITIAN
- BAB HASIL DAN PEMBAHASAN
- BAB KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA/RUJUKAN 
READ MORE - Atikel Ilmiah

Pengembangan Karir Pengawas Sekolah



Pengembangan karier Pengawas Sekolah

TIGA PILAR KEBIJAKAN PENDIDIKAN
PEMERATAAN DAN PERLUASAN AKSES PENDIDIKAN
PENINGKATAN MUTU, RELEVANSI, DAN DAYA SAING
PENINGKATAN TATAKELOLA, AKUNTABILITAS, DAN PENCITRAAN PUBLIK

Pengawas sekolah adalah PNS yg diberi tgs dan tg jwb & wewenang secara penuh oleh Pjybw unt melakukan pengawasan pend di sekolah dg melaksnakn PENILAIAN & PEMBINAAN teknis pend & adm pd satuan pendidikan

Tugas Menilai dan Membina Membutuhkan :
kecermatan melihat kondisi sekolah
ketajaman analisis dan sintesis
ketepatan memberikan treatment yang diperlukan
komunikasi yang baik antara pengawas sekolah dengan setiap individu di sekolah.

Pembinaan dalam arti luas :

melakukan penilaian prestasi kerja bagi pemangku jabfung;
mengendalikan kualitas/mutu profesionalitas melalui pengendalian norma penilaian prestasi kerja baik bg pemangku jabfung maupun tim penilai;
menetapkan angka kredit setelah mendapat pertimbangan Tim Penilai, dalam hal ini, Tim Penilai dibentuk oleh pimpinan instansi pembina jabfung atau pimpinan instansi pengguna jabfung;
memfasilitasi peningkatan kompetensi /profesionalitas, dll.

PERSYARATAN MINIMAL KTI:
SUBSTANSI YANG DIBAHAS ATAU DITULIS DI BIDANG PENDIDIKAN
Penulisannya dijiwai POLA BERFIKIR ILMIAH
Penulisannya menggunakan FORMAT yang LAZIM dalam penulisan ilmiah

PERMASALAHAN :
Kurang lengkapnya berkas usul:
- PAK terakhir tdk terlampir
- SK jabatan tdk terlampir
- Surat penugasan dari Korwas
- DP3

Tdk terlampir bukti fisik pelaksanaan kegiatan PS
- Ijazah & STTPL diklat
- Laporan kegiatan pengawasan sekolah
- KTI blm sesuai dg kriteria KTI PP PS – APIK; SISTEMATIKA
- Pengesahan bukan dari pej yg berwenang
- Surat keterangan dari yg berwenang (penyelenggara seminar, penerbit, kadis pend prop)

PAK ASPAL

Upaya yang telah dilaksanakan oleh DEPDIKNAS dalam rangka MEMOTIVASI GURU/PS untuk melaksanakan Pengembangan Profesi:

Menetapkan pedoman penyusunan karya tulis ilmiah (KTI) dan jenis pengembangan profesi lainnya
Melaksanakan pelatihan penyusunan KTI
Kerja sama dg perguruan tinggi memberikan bintek PS dalam menyusun KTI
Menghimbau PS agar mau melaksanakan pengembangan profesi sejak dini (sebelum mencapai Gol.IV/a) dengan substansi yg paling dikuasai.
Menghimbau PS agar memilih jenis pengembangan profesi selain KTI.
Subsidi dana penelitian 
READ MORE - Pengembangan Karir Pengawas Sekolah

Penelitian Tindakan Sekolah



Penelitian Tindakan Sekolah?

Tujuan PTS : memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam sekolah-sekolah yang berada dalam binaan pengawas sekolah.
Sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.
bagaimana melakukan PTS :
Harus ada tindakan (action) yang nyata.
Tindakan itu dilakukan pada situasi alami dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis.
Tindakan merupakan sesuatu kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu.
dilakukan dalam rangkaian siklus kegiatan.
menuntut etika :
a)tidak mengganggu proses pembelajaran kegiatan pendidikan yang berjalan di sekolah
b)jangan menyita banyak waktu (dalam pengambilan data, dll).
c)masalah yang dikaji harus benar-benar ada dan dihadapi oleh pengawas sekolah.,
d)dilaksanakan dengan selalu memegang etika kerja (minta ijin, membuat laporan, dll).

PTS terdiri rangkaian empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang.
(a)perencanaan,
(b)tindakan,
(c)pengamatan,
(d) refleksi

contoh penelitian tindakan sekolah

Memantau :
Pelaksanaan pembelajaran/ bimbingan dan hasil belajar siswa
Keterlasanaan kurikulum tiap mata pelajaran

Menilai :
Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran / bimbingan

Membina :
Guru dalam menyusun RPP
Guru dalam melaksanakan prosesd pembelajaran di kelas/ laboratorium/ lapangan
Guru dalam membuat, mengelola dan menggunakan media pendidikan dan pembelajaran
Guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan mutu pendidikan
Guru dalam mengolah dan menganalisis data hasil penilaian
Guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas

Melaporkan Tindak Lanjut :
Hasil pengawasan akademik pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya
Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan akademik untuk meningkatkan kemampuan profesional

Tugas Pengawas Sekolah :

Memantau
Pelaksanaan ujian nasional PSB dan ujian sekolah
Pelaksanaan standar nasional pendidikan

Menilai :
Kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan tugas pokok fungsi dan tanggung jawabnya

Membina :
Kepala sekolah dalam pengelolaan administrasi sekolah
Kepala sekolah dalam mengkoordinasikan pelaksanaan program bimbingan konseling

Melaporkan tindak lanjut :
Hasil pengawasan manajerial pada sekolah-sekolah yang menjadi binaannya
Menindaklanjuti hasil-hasil pengawasan manajerial untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan 
READ MORE - Penelitian Tindakan Sekolah

Penelitian Deskriptif




PENELITIAN DESKRIPTIF
Berorientasi Pemecahan Masalah
(Doc. Sri Budi S.)



Dalam kaitannya dengan tugas mengajar guru maka jenis penelitian yang dilakukan guru sebaikinya adalah penelitian yang memiliki dampak terhadap pengembangan profesi guru dan peningkatan mutu pembelajaran. Salah satu jenis penelitian ditinjau dari tingkat eksplanasinya adalah penelitian deskriptif (Sugiyono: 2006, 5), jenis penelitian ini dapat dilakukan oleh guru dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelasnya. Walaupun penelitian yang dilakukan oleh guru merupakan penelitian deskriptif, namun tetap harus mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan guru untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran (Suhardjono: 2005). Upaya tersebut dapat berupa penggunaan metode pembelajaran yang baru, metode penilaian atau upaya lain dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi guru atau dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Dilihat dari syarat penelitian deskriptif yang sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi tersebut (mendeskripsikan upaya yang telah dilakukuan), maka apabila penelitian seperti itu dilakukan secara terencana oleh peneliti maka dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian Pre Experimental Design One Shot Case Study atau One-Group Pretest-Posttest Design (Sugiyono: 2006, 83). Namun demikian, karena pelaksanaan penelitian dilakukan setelah kejadian berlangsung (ini ciri penelitian deskriptif) maka tetap dikatakan sebagai penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) apabila hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; (2) Apabila dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka disebut deskriptif asosiatif; dan (3) apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan maka disebut deskriptif komparatif. Dan karena untuk penelitian deskriptif yang dilakukan guru harus berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu pembelajaran  maka lebih tepatnya rancangan penelitian seperti itu disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pemecahan masalah atau peningkatan mutu, 
A. Ilustrasi
Sebagai ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut. Pak Sahid seorang guru Fisika SMP kelas IX. Dia mempunyai masalah di kelas IX-A karena siswanya sering gaduh dan malas dalam mengikuti pelajaran. Berkali-kali pak Sahid sudah memperingatkan siswanya agar mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi masih belum berhasil juga. Untuk itu dia berfikir untuk menemukan cara bagaimana menarik perhatian siswa agar mau mengikuti pelajaran dengan baik dan aktif dalam belajar. Untuk itu pak Sahid mencoba menerapkan metoda pembelajaran dengan metode penemuan/inkuiri ditambah penggunaan berbagai media pembelajaran. Mulailah dirancang langkah-langkah pembelajaran tersebut dan dituangkannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Selanjutnya pak Sahid mulai menerapkan metode tersebut yang ternyata mampu menarik siswanya sehingga mau mengikuti pelajaran dengan baik dan lebih aktif dari sebelumnya. Selama pelajaran berlangsung pak Sahid mencatat segala tingkah laku siswa, mana hal-hal yang membuat siswa senang dan termotivasi, dan mana yang kurang menarik siswa. Dia juga merekam nilai yang diperoleh siswa sebelum dan setelah metode tersebut diterapkan.
Pada waktu setelah kejadian berlangsung dan karena melihat keberhasilannya tersebut kemudian pak Sahid ingin mengetahui lebih mendalam tentang sebab-sebab siswa tidak tertarik dan kemudian menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran. Dia mulai menanyai (wawancara) siswanya tentang apa yang membuat menarik dan mana yang tidak menarik, mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak perlu dan sebagainya. Selain itu dia juga membuat angket yang dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam pendapat siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkannya. Dari hasil wawancara, angket maupun hasil penilaian, kemudian dilakukan analisis dan pembahasan tentang penyebab ketidaktertarikan dan penyebab ketertarikan siswa, hal-hal yang membuat siswa bergairah dan sebagainya. Selanjutnya pak Sahid menuliskan segala pengalamannya dalam bentuk laporan penelitian, dituliskannya upaya yang telah dilakukan tersebut secara sistematis mulai dari latar belakang mengapa dia menerapkan metode pembelajaran baru, rumusan masalahnya, landasan teori dan metode penelitian yang digunakan serta teknik analisis/pembahasan dan akhirnya menyusun kesimpulan hasil penelitiannya.
Demikian tadi, pak Sahid sudah melakukan penelitian deskriptif kualitiatif tentang upaya yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah dalam proses pembelajaran di kelasnya.

B. Persiapan Penelitian
Sebuah penelitian beranjak dari masalah yang ditemukan atau dirasakan. Yang dimaksud masalah adalah setiap hambatan atau kesulitan yang membuat seseorang ingin memecahkannya. Jadi sebuah masalah harus dapat dirasakan sebagai satu hambatan yang harus diatasi apabila kita ingin melakukan sesuatu. Dalam arti lain sebuah masalah terjadi karena adanya kesenjangan (gap) antara kenyataan dengan yang seharusnya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut akan ditentukan metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan peyimpulan hasil penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu: Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, padat dan jelas, memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data, dan cara menganalisisnya.
Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan itu. Hal lain yang lebih penting makna dari penelaahan kepustakaan adalah untuk memperluas wawasan keilmuan bagi para calon peneliti, karena kita sadari bahwa semua informasi yang berkaitan dengan keilmuan dalam hal ini teori ataupun hasil penelitian para ahli semua sudah tertuang dalam kepustakaan.
Selanjutnya ditentukan metode pengumpulan data, yang diantaranya meliputi metode wawancara, angket, pengamatan dan dokumentasi. Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan dan biasanya disebut pedoman wawancara. Untuk memperoleh jawaban secara tertulis dari responden, digunakan angket atau kuesioner. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Istilah angket digunakan untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket berarti instrumen yang digunakan adalah angket. Selanjutnya data dapat diambil melalui proses pengamatan atau observasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan dan pengamatan sistematis, yang dilakukan oleh pengamatan dengan menggunakan pedoman dalam melakukan pengamatan. Saat melakukan penelitian di mana sumber datanya berupa tulisan atau dokumen, digunakan metode dokumentasi.

C. Pelaksanaan Pengumpulan dan Pengolahan Data
Setelah peneliti melakukan persiapan seperti dijelaskan di atas, maka selanjutnya dilakukan pengumpulan data. Untuk seorang guru, pengumpulan data dapat dilakukan di kelasnya sendiri. Dalam hal rancangan penelitian deskriptif aplikatif, maka pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan angket (bagi siswa SMP, SMA, SMK) atau wawancara (bagi siswa TK atau SD) dan data yang dikumpulkan misalnya tentang tanggapan siswa atas metode pembelajaran baru yang telah dilakukan guru atau hasil observasi atas sikap siswa pada saat guru menyajikan pembelajaran dengan metode baru. Data lain yang perlu dikumpulkan misalnya adalah nilai hasil belajar siswa, yang diperoleh dari metode dokumentasi, dan keaktifan siswa, yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera dilakukan pengolahan data. Selanjutnya data yang telah diolah tersebut disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan lain-lain agar memudahkan dalam pengolahan serta analisis selanjutnya.

D. Analisis dan Penarikan Kesimpulan
Data hasil olahan tersebut kemudian harus dianalisis, data deskriptif kualitatif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karenanya analisis seperti ini juga disebut analisis isi (content analysis). Dalam analisis deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel data yang berisi frekuensi, dan kemudian dihitung mean, median, modus, persentase, standar deviasi atau lainnya. Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Apabila penelitian yang dilakukan guru hanya berhenti pada penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan (untuk meningkatkan mutu pembelajaran), maka setelah disajikan data hasil wawancara, angket, pengamatan atau dokumentasi, maka selanjutnya dianalisis atau dibahas dan diberi makna atas data yang disajikan tersebut. Tetapi apabila penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hubungan maka harus dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana hipotesis yang telah ditetapkan untuk diuji. Misalnya uji statistik yang dilakukan adalah uji hubungan, maka akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, yaitu hubungan antar variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti, dengan taraf signifikansi tertentu, misalnya 5% atau 10%., atau dapat terjadi hubungan antar variabel penelitian atau perbedaan antara sampel yang diteliti tidak signifikan. Apabila ternyata dari hasil pengujian diketahui bahwa hipotesis alternatif diterima (hipotesis nol ditolak) berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, maka berati hipotesis nol yang diterima. Dengan telah diambilnya hasil pengujian mengenai penerimaan atau penolakan hipotesis maka berati analisis statistik telah selesai, tetapi perlu diingat bahwa pelaksanaan penelitian masih belum selesai, karena hasil keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi atau pemaknaan.
Hasil analisis dari pengujian hipotesis dapat dikatakan masih bersifat faktual, untuk itu selanjutnya perlu diberi arti atau makna oleh peneliti. Dalam pemaknaan sering kali hasil pengujian hipotesis penelitian didiskusikan atau dibahas dan kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian dipastikan seorang peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya akan terbukti kebenarannya. Jika memang demikian yang terjadi, maka kemungkinan pembahasan menjadi tidak terlalu berperan walaupun tetap harus dijelaskan arti atau maknanya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji, yaitu ditolak, maka peranan pembahasan menjadi sangat penting, karena peneliti harus mengekplorasi dan mengidentifikasi sumber masalah yang mungkin menjadi penyebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian. Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan peneltian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Apabila penelitian mengikuti alur atau sistematika berpikir yang runut seperti itu maka penelitian akan dapat dikatakan telah memiliki konsistensi dalam alur penelitiannya.




READ MORE - Penelitian Deskriptif

Friday, June 17, 2011

Tips Mencari Tempat Les si Buah Hati

1. Perhatikan kualitasnya

Mencari tempat les sama pentingnya dengan cari sekolah. Jangan asal murah maka kualitas tempat les tersebut Anda abaikan sama sekali. Seperti kata sebuah iklan motor di televisi: "Boleh murah tapi jangan murahan". Artinya, selain pertimbangan biaya, pertimbangkan juga kualitasnya. Ya nggak? Kenapa? Karena memang kualitas tempat les buat anak akan menentukan pula bagaimana kemampuan si anak kelak terhadap materi les yang diajarkan kepadanya. 

Ada
 3 cara. Pertama, perhatikan kualitas lulusan atau mantan siswa yang pernah belajar di sana. Anda bisa melihat atau menanyakan kepada mereka, bagaimana kualitas tempat kursus English tersebut misalnya. Kalau memang kualitas lulusan atau mantan siswanya cukup berprestasi Anda bisa cukup yakin bahwa tempat les tadi cukup baik kualitasnya.


Yang kedua, lihat kemampuan staf pengajarnya. Anda harus memastikan apakah staf pengajarnya memiliki cukup pengetahuan, tahu bagaimana memotivasi siswa dan memahami karakter anak-anak. Yang ketiga adalah metode pendidikan yang ditawarkan. Pastikan bahwa metode pendidikan yang ditawarkan cukup baik. Dengan demikian, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia.


2. Cek lokasinya
 
Nah, ini. Masalah lokasi itu cukup penting lho karena bisa berpengaruh banyak terhadap biaya transportasi yang akan Anda keluarkan untuk si anak. Kalau tempat lesnya cukup jauh dari rumah, maka biaya transportasi yang dikeluarkan akan cukup besar, selain ada risiko anak juga akan mengalami kelelahan di perjalanan yang ujung-ujungnya bisa berpengaruh juga kepada penguasaan materinya. Sebagai tambahan, selain biaya transportasi, Anda juga harus mempertimbangkan untuk memberikan sedikit tambahan uang jajan buat si anak selama ia belajar di tempat les.


3. Lihat lingkungannya


Lingkungan les pendidikan atau les ekstrakurikuler seperti 
les ballet biasanya akan berbeda dengan lingkungan sekolah karena teman-temannya juga akan berbeda, sehingga sangat penting memang untuk memperhatikan lingkungan tempat les yang akan dimasuki anak. 
Contoh lainnya, ternyata teman-teman les si anak adalah anak-anak yang berperilaku kurang sopan dan nakal. Hal itu tentu sedikit banyak bisa berpengaruh terhadap diri si anak. Kalau ia tidak cocok, maka ia akan cenderung menyendiri. Tetapi kalau ia cocok dan ingin ikut-ikutan, maka ia bisa saja jadi berperilaku seperti teman-temannya tadi. Jadi, sekali lagi, lingkungan belajar yang baik, akan memberikan manfaat yang baik pula bagi anak Anda. Ujung-ujungnya, lagi-lagi, uang yang Anda keluarkan tidak akan sia-sia kalau memang Anda bisa memilih tempat les yang memiliki lingkungan yang baik.

4. Ajak anak Anda


Yang akan mengikuti les itu adalah anak Anda, bukan Anda. Karena itu, coba deh ajak dia untuk ikut mengecek tempat-tempat les tersebut sebelum Anda betul-betul memasukkannya ke situ. Sesekali tanyakan padanya apakah ia cocok dengan tempat kursus tersebut. Tanyakan juga padanya apakah ia nyaman dengan lingkungan tempat lesnya. Sebagai tambahan, pastikan juga bahwa ia tidak merasa terpaksa mengikuti les belajar tersebut. Ingat, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda pada dirinya. Berusahalah untuk membujuknya dengan cara-cara yang menarik, agar ia juga bisa menikmati proses belajar yang ia jalani. Mungkin bukan hanya pelajaran formal saja yang harus diberikan les, semacam 
kursus gambar juga bisa menjadi alternatif pendidikan mereka.


www.perencanakeuangan.com

READ MORE - Tips Mencari Tempat Les si Buah Hati

Melatih Anak dengan Gambar

Merangsang kreativitas anak bisa dilakukan dengan mengenalkan pada bahasa gambar. Gambar-gambar tertentu dengan warna beragam bisa jadi daya tarik tersendiri untuk buah hati Anda. Gunakan media buku yang berukuran besar agar gambar terlihat lebih jelas dan terang. Gambar-gambar tertentu dengan warna beragam bisa jadi daya tarik tersendiri untuk si kecil.
Sebaiknya aktivitas perkenalan ini dilakukan sedini mungkin. Anda bisa memulai mengajak berjumpa gambar-gambar aneka hewan liar, baik yang sudah punah maupun masih ada. Misalnya, dinosaurus, harimau, serigala, badak, dan lain sebagainya.
Dampingi anak Anda dengan media buku dan pada saat Kursus Gambar tersebut. Pilihlah buku-buku yang bisa merangkum semua. Misalnya, buku tersebut mengajak anak untuk memperkaya dan menambah kosakata, berhitung, menyusun gambar, mewarnai, melengkapi huruf pada nama-nama binatang, acak kata atau teka-teki, menebalkan huruf- huruf yang samar, dan aktivitas menempel dengan stiker.
Bacakan nama-nama atau keterangan pada gambar secara jelas dan terang. Jangan lupa ulangi, nama-nama hewan tersebut agar anak turut menirukan dan mengingatnya. Berikan satu contoh cara mewarnai atau menebalkan huruf.
Aktivitas belajar dan Kursus Gambar di atas selain bisa merangsang kreativitas anak, juga bisa melatih motoris, daya ingat, kesabaran, dan ketekunan anak.
READ MORE - Melatih Anak dengan Gambar

Sekolah Bertaraf Internasional Buat Siapa?

Munculnya Sekolah Berstandar Internasional Indonesia dianggap sebagai langkah maju tumbuhnya perkembangan pendidikan setara luar negeri atau Internasional. Pengembangan SBI sendiri didasarkan pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat 3 yang secara garis besar ketentuan ini berisi bahwa pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan pendidikan bertaraf internasional. VisiSekolah Internasional sendiri yakni mewujudkan insan Indonesiacerdas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Y.M.E, berakhlak mulia, berjati diri Indonesia, dan kompetitif secara global. Dengan adanya dasar dan visi pengembangan Sekolah Berstandar Internasional tersebut pemerintah terus berusaha menyertakan ratusan SMP dan SMA seluruh Kabupaten/Kotamadya di Indonesia dengan memberikan sokongan dana ratusan milyar rupiah.

Pembentukan Sekolah Berstandar Internasional sendiri harus mengacu pada standar perumusan SBI yakni SBI = SNP + X. SNP adalah Standar Nasional Pendidikan dan X adalah penguatan untuk berdirinya SBI seperti sebagai penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman, adopsi terhadap standar pendidikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional umpamanya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, UNESCO. SNP sendiri memiliki 8 kompetensi yakni lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarpras, dana, pengelolaan dan penilaian.
Secara konsep, memang siswa Sekolah Internasional dirintis untuk menyamai kurikulum internasional seperti pada Cambridge atau International Baccalaureate (IB), dari sisi ini fungsional ketika siswa SBI sedikit menyamai Cambridge atau IB masih tanda tanya. Output SBI yang sudah ada akan diarahkan kemana nantinya, terutama ketika mereka akan menginjakkan pendidikan di Universitas. Konsep SBI secara tujuan dan visi memang sangat bagus, dimana siswa sudah terlatih untuk berkomunikasi secara global dengan bahasa Inggris. Siswa SBI juga memiliki pengalaman belajar yang sama dengan IB atau Cambridge.
Ada beberapa hal sebenarnya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia maju tetapi secara sistematis dan konseptual. Sedikit ilustrasi, nama SBI yang sudah tercanangkan ini dapat diganti dengan program sekolah yang berbasis bilingual. Adanya English club atau pemusatan sekolah dengan melibatkan bahasa inggris akan lebih baik dari SBI. Ini dilihat dari proses SBI yang menekankan pada bahasa Inggris, tapi apakah pemahaman akan mata pelajaran juga meningkat. Hal lain adalah, nama SBI itu sedikit ”menyeramkan” karena masyarakat akan menilai Sekolah Anak SBI benar-benar seperti sekolah luar negeri, tapi ketika siswa luar negeri dihadapkan pada siswa SBI secara nyata akan terlihat perbedaan yang jauh. Dari sisi itu seharusnya siswa Sekolah Anak SBI memiliki kemampuan sama dengan siswa luar negeri, karena pemerintah juga berani menggunakan titel bertaraf internasional. Pemunculan SBI mengundang sedikit kontroversi terutama ketika dihadapkan pada multikultural di Indonesia.

Titel taraf Internasional memberikan image tersendiri bagi masyarakat. Untuk apa dan siapa SBI ini juga masih menjadi polemik, karena siswa SBI didominasi oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke atas, selain itu siswa Sekolah Berstandar Internasional hanya untuk siswa diatas rata-rata SNP. Output SBI juga masih samar terutama ketika siswa ingin melangkahkan pendidikan lanjutan. Pemerintah memang harus jeli dalam membuat kebijakan pendidikan agar peningkatan pendidikan di Indonesia melonjak, bukan berarti melonjak adalah mengikuti/menyamai luar negeri tapi mendongkrak masyarakat bawah yang sebelumnya awam pendidikan menjadi paham pendidikan..
Sumber: kabarindonesia.com
READ MORE - Sekolah Bertaraf Internasional Buat Siapa?